"Saat ini di sekolah sedang hangat dibahas terkait digitalisasi perpustakaan dan juga sosialisasi akreditasi perpustakaan di Kota Tasikmalaya"
Hari Pertama
Di hari pertama pembuatan aplikasi ini, fokus saya adalah memotong semua kerumitan teknis agar alur kerja perpustakaan sekolah jadi satu garis lurus yang mulus:
Saya memposisikan perpustakaan sekolah dalam kondisi reset lagi, mulai lagi dari awal labeling buku. Mengapa? Tentu agar dimasukan QR Code atau Barcode ke dalam label untuk digitalisasi proses sirkulasi buku ke depannya. Fitur apa saja yang lahir di hari pertama kemarin :
1. Klasifikasi Cerdas DDC AI 23
Fitur ini menentukan nomor kelas buku yang biasanya sering bikin pusing apalagi di sekolah seperti kami yang tidak ada tenaga ahli bidang pustakawannya. Dengan DDC AI, kita cukup memasukkan judul atau tema buku saja. AI sudah memahami konteks budaya dan kurikulum Indonesia, buku dongeng anak otomatis diarahkan ke fiksi sastra anak (899.221), buku kisah nabi ke rumpun agama Islam (297), dan buku IPA ke sains (500).
2. Digitalisasi Sirkulasi & Presensi Siswa
Meja peminjaman kini sudah diproyeksikan sepenuhnya paperless, alhamdulillah di sekolah kami memang sudah tersedia bantuan laptop chromebook dan juga tablet, tapi rencananya tablet yang akan digunakan untuk digitalisasi perpustakaan ini, karena tabletnya juga model tablet AIO yang bentuknya seperti huruf L. Nantinya cukup cari nama siswa atau scan kartu anggota, klik buku yang dipinjam, dan tanggal jatuh tempo langsung terhitung otomatis. Bahkan untuk denda keterlambatan, disediakan opsi sanksi edukatif (seperti membaca dan merangkum buku) bagi anak yang belum memiliki uang saku.
3. Generator Cetak Label & Barcode Instan
Nomor panggil (Call Number) dirumuskan otomatis dari kombinasi DDC + 3 huruf pengarang + 1 huruf judul. Label punggung buku dan barcode siap dicetak dengan ukuran presisi dalam sekali klik.
Hari Kedua
Hari kedua adalah pembuktian bagaimana teknologi AI benar-benar menuntaskan masalah input data yang paling rumit. Setelah uji coba input katalog ternyata masih dirasakan kekurangannya sehingga di hari kedua ini lahirlah fitur berikut :
1. Fitur Andalan: AI Scan Halaman Hak Cipta (KDT / Verso)
Banyak buku sekolah dan penerbit lokal yang nomor ISBN-nya tidak terdaftar di Google Books. Di hari pertama kemarin buku seperti ini artinya harus diketik manual huruf demi huruf.
Sekarang? Tinggal buka halaman pertama setelah cover (halaman hak cipta / KDT), lalu foto pakai kamera HP!
AI Vision langsung membaca foto kertas tersebut dan secara ajaib mengisi:
- Judul buku lengkap beserta subjudul
- Penulis, editor, ilustrator, dan penerjemah
- Penerbit, kota terbit, dan tahun cetakan
- Nomor ISBN, jumlah halaman, hingga nomor DDC 23!
Semua terisi ke formulir katalog hanya dalam 3 detik.
Saya menggunakan teknologi Google Vision yang ada di Gemini 3.1 Flash. Bayar tidak? Bayar tetapi terhitung murah karena kita ambil langsung dari API nya sedangkan aplikasinya kan kita buat sendiri.
2. Multi-Source ISBN & Kamera Scanner
Cukup arahkan kamera ke barcode fisik buku, sistem otomatis melacak data ke 5 database publik (Google Books, Open Library, WorldCat, hingga Perpustakaan Nasional RI). Sebelumnya hanya cek Google Books dan Open Library saja, walaupun fitur ini sepertinya akan jarang terpakai karena buku-buku di sekolah kami kebanyakan terbitan yang tidak ada di Google Books. Hehe.
3. Anti-Duplikasi Stok Otomatis
Ini fitur keren sih buat saya, karena dengan fitur ini kita bisa leluasa foto semua KDT tanpa khawatir ada katalog buku ganda. Jika ada buku yang sama diinput ulang, sistem tidak membuat data ganda, melainkan otomatis menambahkan jumlah eksemplar fisik (+1) tanpa merusak detail buku yang sudah ada.
Di hari kedua ini saya sudah mendeploy aplikasi ini secara online untuk memudahkan proses input katalog menggunakan banyak HP, keroyokan banyak guru. Nanti kalau sudah selesai input katalog bisa dipindahkan ke mode offline juga, sehingga untuk memudahkan fleksibilitasnya saya menggunakan php dan database SQLite.
https://sdncibangunkidul.sch.id/perpus/
Pesan untuk Guru Indonesia: Jadilah Penggerak Solusi di Sekolahmu
Sebagai guru, kita tidak harus menjadi software engineer profesional untuk menghadirkan perubahan nyata. Kita adalah orang yang paling mengerti denyut nadi dan kesulitan di sekolah kita sendiri.
Ketika pemahaman masalah kita sebagai pendidik bertemu dengan kekuatan AI sebagai asisten pengembang, teknologi tidak lagi menjadi beban administrasi, melainkan sayap yang memerdekakan kita untuk lebih fokus mendampingi anak-anak membaca dan belajar.
Dari SDN Cibangun Kidul untuk kemajuan literasi negeri, mari terus berinovasi!
Ditulis untuk Lomba Blog Guru bersama Omjay (Hari ke-5).
Kunjungi portal cerita edukasi dan inovasi guru di: https://inibudi.or.id
Wiki Pribadi di https://inibudi.or.id/wiki
Media Pembelajaran di https://inibudi.or.id/media.php