Kalau mengingat perjalanan saya di dunia teknologi, rasanya penuh dengan dinamika yang menarik. Saya mengawali perjalanan ini sebagai seorang kepo otodidak, mulai dari otak-atik Powerpoint, Edit Video, Blogger, masuk ke ekosistem WordPress, hingga sekarang menikmati era Vibe Coding yang sangat memanjakan pengembang aplikasi.
Dulu waktu kuliah di luar dunia web dan blog pernah ada aplikasi jarvis-jarvisan yang waktu itu dipakai untuk memotivasi anak-anak sekolah yang saya dampingi menghapal quran. Jadi, si jarvis-jarvisan ini bisa ditanya-tanya oleh kita lewat suara, kalau sekarang sudah tidak aneh kan AI pengenal suara, bahkan sudah bisa interaksi lewat kamera sambil ngobrol dan nunjukin benda-benda. Tapi kan ini dulu ya saya cerita jarvis-jarvisannya.
Selain otodidak belajar sendiri, ke sana-sini, tidak fokus. Saya juga sempat mengikuti bootcamp koding bersama adik ipar. Tapi sejujurnya, materi dasar seperti HTML, CSS, dan JavaScript yang dipelajari di sana pun pada praktiknya jarang saya ketik manual huruf demi huruf. Kebanyakan sudah dibantu oleh tools berbasis GUI (Graphical User Interface).
Melihat lompatan teknologi saat ini, mindset kita dalam membangun aplikasi solutif memang harus ikut bergeser. Sekarang fokus utama kita sebaiknya ada pada pemahaman arsitektur aplikasi dan logika solusi, bukan lagi terjebak atau tertekan pada urusan sintaks pemrograman. Koding teknis? Sebagian besar sudah bisa kita percayakan kepada AI. Tentu, memahami dasar-dasar koding itu tetap penting sebagai fondasi, tapi kita tidak perlu merasa terbebani sampai stres di sana. Tapi bagi saya, aplikasi itu adalah alat sih bukan tujuan. Jadi saya tidak belajar pemrograman untuk tujuan membuat aplikasi, tetapi saya membuat aplikasi bagaimana pun caranya untuk tujuan lain. Berbeda kan?
Begini jelasnya, kalau programmer tentu tujuannya adalah membuat aplikasi, maka dia harus paham 100% pemrogramannya, walaupun tidak 100% selayaknya lah ya kan?
Kalau saya, bukan programmer, saya guru yang belajar dan berdagang, tujuannya bukan membuat aplikasi, tapi mengajar, belajar, dan berdagang, maka aplikasi bagi saya adalah alat.
Mau saya buat lewat blogger, wordpress, CMS lain, vibe coding, bahkan beli script yang sudah jadi pun pernah semuanya saya lakukan. Demi apa? Seperti tadi saya sampaikan, untuk mengajar, belajar, dan berdagang.
Salah satu contoh jejak digital jualan saya waktu masih kuliah, Lagubagusku.com yang dibuat di blogger. Membuat saya mengedit lagu sampai telinga berdengung bikin kaget karena terlalu sering dan terlalu lama menggunakan headset. Waktu itu, bahkan sampai pernah mendapat projek aransemen lagu dari luar negeri lewat situs luar sekitar 5 kali. Kebanyakan sih projekan dari Indonesia lagi, lewat SMS dan email. hehe.
Semalam, saya sempat melihat-lihat dokumen API resmi yang tersedia di Gemini. Betapa kaget sekaligus terpukaunya saya ketika menemukan Gemini Robotics (ER2). Tahun lalu, ide memasukkan kecerdasan AI ke dalam fisik/badan robot rasanya masih sebatas bayangan atau konsep imajinatif. Eh, ternyata sekarang fiturnya sudah ada dan siap untuk dipakai!
Selama ini saya memang sudah terbiasa memasukkan AI ke dalam 'otak' komputer server untuk mendukung berbagai aplikasi pendidikan dan tools yang saya kembangkan. Tapi kalau memasukkan AI ke dalam 'otak' komputer robot? Wah, itu hal yang beda lagi! Logikanya harusnya mirip, dan jujur saya sangat penasaran. Katanya kita bahkan bisa melakukan simulasi fisiknya dulu menggunakan MuJoCo. Setelah intip-intip beberapa videonya di YouTube, seru dan bikin makin penasaran!
Pada akhirnya, ruang belajar kita memang tidak boleh berhenti. Bukan cuma soal AI, robotics, atau koding, tapi juga perkembangan di dunia pendidikan, mulai dari metode mengajar baru, media pembelajaran, hingga manajemen kelas. Ada banyak sekali hal menarik di luar sana. Yang paling utama adalah ilmu agama, jangan sampai berhenti belajar ilmu tersebut.
Namun kembali lagi ke prinsip dasar: sesuaikan dengan kebutuhan dan kapasitas masing-masing. Yang terpenting adalah semangat untuk terus belajar hal-hal baru yang bermanfaat, lalu mengamalkannya demi kebaikan sekitar. Bagi muslim, belajar koding pun bisa jadi pahala, setidaknya niatnya untuk kebaikan, diawali basmallah, diakhiri hamdallah, digunakan untuk membantu orang lain.
Bantu share dan ramaikan tulisan ini ya! Saat ini saya sedang konsisten mengikuti Lomba Menulis Blog Guru yang diselenggarakan oleh Omjay di https://wijayalabs.com.
Kunjungi juga portal cerita edukasi, inovasi guru, dan wiki yang saya kelola di: