Peringatan HUT RI ke-81 tahun 2026 ini terasa cukup berbeda. Tanggal 17 Agustus 2026 hari ini, jatuh pada hari Senin dan menjadi hari libur, aktivitas belajar mengajar di SDN Cibangun Kidul diliburkan dan anak-anak merayakan kemerdekaan di rumah masing-masing.
Sebagai tenaga pendidik, saya menghadiri upacara bendera tingkat Kecamatan Cibeureum yang dipusatkan di Lapangan Karangsambung. Berdiri tegap menggunakan seragam KORPRI di antara barisan peserta upacara lainnya, ada rasa haru dan bangga yang menyelimuti dada.
Namun, ada hal lain yang membuat 17 Agustus tahun ini begitu membekas. Saat mendengarkan langkah kaki para siswa yang menjadi paskibra dan melihat prosesi pengibaran bendera di Lapangan Karangsambung, pikiran saya mendadak terlempar kembali ke masa lalu, tepatnya 18 tahun yang lalu, saat saya berkesempatan bertugas sebagai Paskibraka Tingkat Provinsi Jawa Barat pada tahun 2008.
Tak terasa, sekarang sudah tahun 2026. Tapi detail kenangan hari itu masih tergambar sangat jelas di ingatan.
Waktu itu, saya dipercaya mengisi posisi penjuru di Pasukan Pengibaran Pagi. Jantung rasanya berdegup sangat kencang, terutama di 5 menit kritis sebelum prosesi pengibaran. Rasa deg-degan itu seolah memenuhi seluruh dada. Anehnya, begitu aba-aba berjalan diberikan dan kaki mulai melangkah kompak, rasa cemas itu mendadak hilang berganti fokus total.
Tapi tensi kembali naik saat tiba di titik pengibaran. Pas mau menggerek bendera, rasa deg-degan itu datang lagi menghampiri, mungkin karena ada kekhawatiran bendera terbalik, dsb. Dan puncaknya, ketika tali dipatenkan, bendera dibentangkan, lalu aba-aba hormat diberikan... mata ini rasanya berkaca-kaca. Ada rasa terharu yang sulit dilukiskan dengan kata-kata saat melihat Sang Merah Putih berkibar sempurna hingga puncak tiang. Perjuangan dari awal seleksi tingkat kota hingga provinsi ditambah latihan dengan total yang berbulan-bulan itu demi prosesi yang hanya beberapa menit tetapi begitu membekas.
Setelah upacara pagi selesai, luapan rasa bahagia dan lega begitu terasa di ruang tunggu. Kami yang bertugas pagi bisa bernapas lega, sementara rekan-rekan di pasukan sore tampak masih tegang dan agak sedih karena harus menyimpan rasa deg-degan itu beberapa jam lagi hingga acara penurunan selesai. Maka dari itu, sebelumnya para pelatih berpesan agar tidak langsung euforia di pagi hari karena masih ada rekan pasukan sore yang harus berjuang. Saya masih ingat ketika masa istirahat jeda antara pasukan pagi dan pasukan sore di barak, banyak pasukan sore yang mendadak sakit, gelisah, bahkan ada yang sampai harus diberi obat. Tekanan mental sangat berperan. Alhamdulillah di tahun 2008 itu kami berhasil menyelesaikan tugas pengibaran dan penurunan dengan lancar.
Berdiri di Lapangan Karangsambung dengan baju KORPRI hari ini membuat saya sadar, nilai-nilai disiplin, daya juang, dan rasa cinta tanah air yang ditempa selama menjadi Paskibraka Jabar 2008 tidak pernah pudar. Semangat itu yang kini terus saya bawa dalam menjalankan amanah mendidik anak-anak di sekolah.
Selamat Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81. Merdeka!
Dan di hari ini juga merupakan hari pertama program menulis artikel untuk blog ini lagi. Sebelumnya saya hanya fokus di Wiki Berbudi yang merupakan personal wiki saya. Ada berbagai tulisan di sana, tapi dengan wasilah mengikuti lomba menulis blog dari Dr. Wijaya Kusumah a.k.a Omjay maka saya ikuti projek ini sambil mengaktifkan lagi blog ini dengan format baru. Jadi setelah sebelumnya bingung mau diisi apa, sekarang diputuskan bahwa tulisan yang berisi berita dan opini akan saya tampilkan di blog ini.